Kpz0JXNL4KwnNLROcdoTIG3N8IlpsfRVGQnxBFp8
Bookmark

7 Masalah Pendidikan Di Indonesia

Ikatan Cendikia - Masalah Pendidikan Di Indonesia | Di Indonesia, masih terdapat sejumlah masalah umum dalam sektor pendidikan yang menjadi tantangan dalam meningkatkan kualitas dan akses pendidikan.

Pentingnya pendidikan berkualitas menjadi kunci bagi kemajuan suatu bangsa. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana perubahan bagi generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa, melainkan juga harus menjadi motor penghasil transformasi yang nyata.

Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan jumlah penduduk mencapai 275,36 juta jiwa, menghadapi berbagai dinamika pendidikan. Sistem pendidikan Indonesia diatur Undang-Undang No.20 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan di Indonesia dibagi menjadi tiga jalur utama, yaitu formal, non formal, dan informal.

Dalam setiap sistem, pasti akan ada kelebihan dan kekurangan. Namun, kualitas suatu sistem akan tercermin dari kinerjanya. Jika dijalankan dengan baik, banyak hal positif dan hasil yang memuaskan dapat dihasilkan.

Masalah Pendidikan Di Indonesia

7, Masalah, Pendidikan, Di Indonesia
gambar: pixabay


1. Kualitas Penilaian dan Evaluasi

Evaluasi merupakan proses yang bertujuan menyediakan informasi mengenai pencapaian suatu kegiatan, sejauh mana keberhasilan telah dicapai. Evaluasi juga melibatkan perbandingan antara pencapaian tersebut dengan standar tertentu untuk menentukan apakah terdapat perbedaan di antara keduanya, serta untuk menilai manfaat yang telah dihasilkan dalam perbandingan dengan harapan.

Seringkali, sistem evaluasi dan ujian di Indonesia menjadi sumber perdebatan. Terkadang, evaluasi yang terlalu terfokus pada ujian standar nasional dapat mengabaikan perkembangan holistik siswa dan pendekatan evaluasi alternatif yang lebih inklusif.

2. Kesenjangan Teknologi

Kesenjangan Teknologi atau Kesenjangan digital didefinisikan sebagai kesenjangan atau perbedaan antara individu, rumah tangga, bisnis, atau kelompok masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi yang berbeda dalam hal peluang akses dan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), serta pemanfaatan internet untuk berbagai aktivitas.

Sementara menurut Onitsuka et al. (2018), kesenjangan digital merujuk pada ketidaksetaraan yang dialami oleh sebagian orang dalam mengakses dan menggunakan teknologi digital, yang menyebabkan kesulitan atau kurangnya keahlian dalam pemanfaatan teknologi digital, atau disebut sebagai 'gagap teknologi digital'. Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Valdez & Javier (2020).

Masalah akses kesenjangan terhadap teknologi informasi dan komunikasi masih menjadi tantangan di Indonesia. Tidak semua siswa memiliki akses yang setara terhadap perangkat komputer, internet, atau sumber daya digital. Hal ini dapat menyebabkan kesenjangan dalam kemampuan mengakses informasi dan pembelajaran daring.

3. Kualitas Fasilitas dan Infrastruktur

Banyak sekolah di Indonesia masih menghadapi tantangan terkait fasilitas dan infrastruktur yang kurang memadai. Hal Ini berbentuk keterbatasan ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, sanitasi yang kurang memadai, dan akses internet yang terbatas.

Kekurangan ini dapat berdampak pada pengalaman belajar siswa dan kualitas pendidikan yang diberikan.

Fasilitas pendidikan adalah perangkat yang digunakan untuk mendukung jalannya proses pembelajaran, terutama dalam konteks kegiatan belajar mengajar (Sopian, 2019). Infrastruktur pendidikan mencakup:

  • a. Sarana pembelajaran;
  • b. Laboratorium;
  • c. Pusat pelatihan;
  • d. Pusat penelitian;
  • e. Sarana dan prasarana penelitian dan pengembangan;
  • f. Ruang partisipasi siswa;
  • g. Perpustakaan; dan
  • h. Fasilitas penunjang pembelajaran dan pelatihan.

4. Kurikulum yang Tidak Sesuai

Beberapa pihak berpendapat bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia masih kurang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan global.

Terdapat terlalu banyak teori dan kurangnya penekanan pada pemberdayaan keterampilan praktis, yang dapat menghambat kemampuan siswa untuk mengembangkan keterampilan yang sesuai dan dapat diaplikasikan secara nyata.

Selanjutnya, Apa saja masalah yang muncul dalam pengembangan kurikulum? Pembahasan ini menunjukkan adanya beberapa faktor permasalahan dalam pengembangan kurikulum, termasuk masalah kurikulum, personalitas dan kualitas sumber daya manusia, serta biaya pendidikan.

Secara umum, proses pengembangan kurikulum melibatkan tahap perencanaan, implementasi, dan bentuk pengembangan kurikulum pada setiap tingkatnya.

5. Kualitas Guru dan Tenaga Pendidik

Tantangan yang berkaitan dengan kualitas guru dan juga tenaga pendidik masih juga terjadi. Kurangnya pelatihan yang memadai, keterbatasan sumber daya manusia berkualitas di bidang pendidikan, dan tingkat rotasi yang tinggi di beberapa daerah dapat menghambat konsistensi dan kualitas pengajaran.

6. Ketidaksetaraan Pendidikan

Ketidaksetaraan dalam bidang pendidikan antara daerah di perkotaan dan di pedesaan, serta di antara berbagai kelompok sosial dan juga ekonomi, juga masih saja menjadi masalah yang serius di Indonesia. Fasilitas dan kualitas pendidikan di perkotaan umumnya lebih baik dibandingkan dengan di pedesaan.

Anak-anak yang berasal dari keluarga miskin tetap saja sering mengalami kesulitan dalam upaya mengakses pendidikan dengan kualitas tinggi.

7. Keterbatasan Akses ke Pendidikan

Masih sangat banyak anak di berbagai daerah Indonesia yang kini menghadapi kesulitan dalam usahanya mengakses pendidikan, terutama sekali mereka yang ada di daerah terpencil, wilayah pedalaman, atau juga kalangan komunitas miskin.

Jarak tempat pendidikan yang jauh antara rumah tempat tinggal dengan sekolah, ditambah lagi dengan kurangnya sarana transportasi, dan bahkan juga minimnya infrastruktur pendidikan yang ada di daerah-daerah tersebut menjadi sebuah hambatan bagi mereka untuk mengakses pendidikan yang layak.

Pemerintah Indonesia dan pemangku kepentingan pendidikan terus berusaha mengatasi tantangan ini melalui berbagai program dan kebijakan, seperti peningkatan akses pendidikan, peningkatan kualitas guru, reformasi kurikulum, investasi infrastruktur, serta pengembangan teknologi pendidikan.